Lidah orang berakal di belakang hatinya dan hati orang bodoh di belakang lidahnya.
Ketahuilah, lidah laksana binatang buas yang suatu saat bisa "membunuh".
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Januari 2013

Kurang Saling Menghargai?


Banyak pendapat menyatakan anak muda sekarang kurang menghargai sesamanya, penghormatan kepada orang yang lebih tua dan empati kepada yang menderita dinilai menipis. Salah satu contohnya yang mudah dilihat adalah membiarkan orang tua, perempuan hamil atau ibu yang sedang menggendong anaknya berdiri, sementara anak muda memilih tetap duduk di kursi dalam angkutan umum. Benarkah itu?
Iya, memang tak dapat dipungkiri, seiring dengan perkembangan zaman, tingkah laku para remaja kian berubah dari waktu ke waktu. Rasa hormat terhadap orang yang lebih tua secara terang-terangan sering kali tak ditunjukkan.Datangnya kebudayaan dari barat sangat mempengaruhi nilai-nilai tradisional bangsa Indonesia, sehingga semakin lama nilai tradisional Negara kita sendiri semakin pudar. Para remaja Indonesia kian mengikuti dan mencontoh kebudayaan luar negeri dan melupakan nilai-nilai tradisional Negara sendiri, seperti contohnya kesopanan.
Sopan santun, atau juga dikenal sebagai tata krama, merupakan salah satu ciri khas dari masyarakat Indonesia. Sejak dahulu, bangsa Indonesia dikenal dengan keramahannya, kesopanannya, serta adat istiadat yg dijunjung tinggi. Namun, apabila kita berkaca pada kehidupan bangsa saat ini, sungguh ironis sekali dimana banyak sekali pergeseran yang dilakukan oleh anak- anak, remaja mengenai budaya sopan santun ini. Di majalah, televisi, internet, tak jarang orang berani melakukan perilaku yang sebenarnya dianggap tidak sopan, namun sudah dianggap biasa.
Secara tidak langsung dengan kurangnya kita bersopan santun dan bertatakrama, jati diri kita sebagai bangsa indonesia sudah mulai luntur. Inilah masalah besar yang timbul dari hal sepele, perkara yang seharusnya kitaperhatikan sejak kita masih kecil, hal yang seharusnya diajarkan oleh para orang tua. Memang, masih banyak orang dari bangsa ini yang masih menjunjung kesopanan dan tatakrama, tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang telah melupakan tentang tatakrama dan sopan santun tersebut. Inilah persoalan yang mendasar yang menjadi permasalahan bangsa indonesia saat ini. “Krisis jati diri” mungkin itu kata yang tepat untuk menyebutkan situasi bangsa Indonesia saat ini. Sebenarnya kata itu sangat menyakitkan hati bagi oarang-orang yang mau berfikir. Bangsa ini merupakan bangsa yang berbudaya , namun bangsa ini kini telah kehilangan jatu dirinya. Bangsa yang duluhebat karena budayanya, kini telah rapuh dengan sendirinya. Persoalan inilah yang menimbulkan masalah yang lebih besar dan mengerikan.
Pada dasarnya kita harus sopan dimana saja, kapan saja dan dalam kondisi apapun. Apalagi kita hidup dalam budaya Timur yang sarat akan nilai-nilai kesopanan, sehingga seharusnya kita berpatokan dalam budaya timur dan berpedoman pada sopan santun ala timur. Sopan santun itu bukan warisan semata dari nenek moyang, lebih dari itu, dia sudah menjadi kepribadian kita. Memang kadar kesopanan yang berlaku dalam setiap masyarakat berbeda–beda, tergantung dari kondisi sosial setempat. Dan permasalahan ini sangat komplek karena berkaitan dengan faktor internal dan eksternal yang menyebabnya lunturnya nilai sopan santun.
Faktor eksternal terealisasi dalam kondisi sekarang yang secara realita kebudayaan terus berubah karena masuknya budaya barat yang akan sulit mempertahankan kesopanan disemua keadaan ataupun disemua tempat. Perubahan tersebut mengalami dekadensi karena berbedanya kebudayaan barat dengan kebudayaan kita. Misalnya saja sopan santun dalam tutur kata. Di barat, anak-anak yang sudah dewasa biasanya memanggil orang tuanya dengan sebutan nama, tetapi di Indonesia sendiri panggilan tersebut sangat tidak sopan karena orang tua umurnya lebih tua dari kita dan kita harus memanggilnya bapak ataupun ibu. Kemudian sopan santun dalam berpakaian, diluar negeri orang yang berpakaian bikini dipantai bagi mereka wajar. Tapi bagi kita berpakaian seperti itu sangat tidak sopan karena dianggap tidak sesuai dengan norma kesopanan. Selanjutnya Sopan santun dalam bergaul, dibarat jika kita bertemu teman yang berlawanan jenis kita boleh mencium bibirnya, tetapi di Indonesia hal tersebut sangat bertentangan dengan kesusilaan. Oleh karena kebudayaan yang masuk tidak tersaring sepenuhnya menyebabkan lunturnya sopan santun.
Sedangkan faktor internalnya ada pada diri sendiri, keluarga, lingkungan tempat nongkrong, lingkungan sekolah, ataupun media massa. Pengetahuan tentang sopan santun yang didapat disekolah mungkin sudah cukup tapi dilingkungan keluarga ataupun tempat tongkrongan dan media massa kurang mendukung tindakan sopan disemua tempat ataupun sebaliknya, sehingga membuat tindakan sopan yang dilakukan oleh anak-anak atau pun remaja hanya dalam kondisi tertentu. Misalnya penyebutan nama bagi yang umurnya lebih tua masih dianggap tidak sopan sehingga mereka memanggil mas, bang, aa, ataupun yang lain. Sedangkan dalam berpakaian ataupun yang lain kurang diperhatikan. Kita sendiri tak memungkiri keadaan tersebut , kondisi lingkungan yang kurang peduli terhadap kesopanan, sehingga akhirnya pada saat-saat tertentu saja kita sopan. Seperti disekolah, ditempat kuliah, ataupun di tempat-tempat formal yang lainnya. Keadaan ini seharusnya jangan sampai terjadi karena lama kelamaan akan menimbulkan hilangnya kebudayaan kita dan mungkin akhirnya kita tidak mempunyai kebudayaan sendiri.
Fakta lain yang menunjukkan menurunnya tingkat kesopanan remaja di Indonesia adahal seperti halnya zaman dahulu, para remaja sangatlah sopan terhadap orang yang lebih tua. Mereka harus berlutut atau dalam bahasa jawa “sungkem” jika sedang berhadapan dengan orang yang lebih tua. Para remaja sangat hormat dan tunduk kepada orang tua dan hal tersebut membuktikan bahwa para remaja sangatlah sopan terhadap orang tua. Tetapi sangatlah berbeda dengan zaman sekarang. Kebanyakan remaja berlaku tidak sopan terhadap orang yang lebih tua. Melawan ketika dinasihati, memotong pembicaraan, membiarkan berdiri sedangkan ia tetap memilih duduk dikursi dalam angkutan umum, dan masih banyak lagi lainnya.
Melihat kondisi demikian, agaknya tepat jikorang tua ikut berperan dalam pembentukan etika pada anak. Dan orang tua pula dituntut untuk mengajarkan nilai-nilai tersebut. Namun mengajarkan etika tidak bisa dilakukan hanya satu hari. Hal ini membutuhkan proses yang cukup panjang dan haris dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Hal tersebut adalah suatu langkah awal untik membentuk suatu generasi yang sadar diri terhadap tatakrama dan sopan santun.
Pendidikan karakter juga harus terus diupayakan sebagai pengganti darikonsep Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang kini telah tiada dan hanya tinggal menjadi sebuah nama dalam perjalanan sejarah masa lalu. Pengertian karakter yang banyak dikaitkan dengan pengertian budi pekerti, akhlak mulia, moral, dan bahkan dengan kecerdasan ganda (multiple intelligence) kiranya bisa membantu dalam membentuk norma kesopanan pada anak. Hal iniMengingat lingkungan pendidikan merupakan tempat di mana waktu banyak dihabiskan maka perannya juga tidak boleh dikecilkan. Sayangnya, pendidikan budaya di lingkungan sekolah sejauh ini belum bisa mencapai tujuan utamanya.Pendidikan bahasa Jawa hanya mengajarkan tutur bahasa Jawa. Seharusnya, pengajaran tentang kebudayaan Jawa yang berkaitan dengan budi pekerti dan kepribadian juga diajarkanPerkembangan zaman saat ini merupakan pemicu dari lambatnya pemahaman budaya masyarakat termasuk pendidik. Selain itu, secara disiplin ilmu mereka juga tidak paham tentang budaya sebenarnya.Padahal pendidikan karakter yang selama ini digemborkan dalam sistem pendidikan, sangat erat kaitannya dengan kearifan lokal, termasuk budaya dan bahasa Jawa.
Nilai-nilai tradisional sebenarnya sangatlah penting bagi remaja-remaja itu sendiri. Nilai-nilai kesopanan yang dibawa remaja-remaja Indonesia akan memberi dampak positif bagi mereka yang membawanya. Remaja-remaja yang menjaga kesopanan di mana saja dan terhadap siapa saja akan dinilai lebih oleh orang lain dan hal tersebut menjadikan image yang bagus bagi remaja itu sendiri. Menjaga kesopanan juga menjanjikan masa depan yang lebih baik karena orang-orang akan menganggap kita tinggi dan bermartabat.
Nilai-nilai tradisional terutama kesopanan harus tetap dijaga para remaja Indonesia sehingga tidak hilang seiring dengan berkembangnya zaman. Nilai-nilai kesopanan sangatlah penting dalam hidup bermasyarakat dan bersosialisasi dengan orang banyak sehingga orang lain juga dapat menghormati kita sebagaimana kita telah menjaga kesopanan dikalangan orang banyak. Dengan menjaga nilai-nilai kesopanan kita, para remaja yang disebut-sebut sebagai penerus bangsa, juga dapat memajukan bangsa Indonesia dengan menjaga nilai-nilai tradisional yang sudah dibawa dari dulu.
Tulisan ini hanya sekadar mengungkapkan kekecewaan penulis atas berkurangnya nilai-nilai kesopanan yang dimiliki bangsa ini. Marilah kita mulai membuka mata, dan melihat kembali di sekeliling kita, apakah sopan santun itu masih ada, atau hanya akan menjadi budaya yang terlupakan oleh bangsa ini.
Renungkanlah sejenak, meskipun kesopanan itu merupakan bagian kecil dari kehidupan, kesopanan inilah yang akan membuat hidup kita jadi lebih baik. Mari kita mulai untuk menghidupkan kembali budaya sopan santun yang baik. Menanamkan itu pada anak cucu kita, sehingga ciri khas dari bangsa ini tidak akan hilang ditelan waktu. “Sopan santun sebuah budaya yang terlupakan” hanyalah sebagai pengingat untuk kita agar tidak melupakan perilaku sopan dan santun dalam kehidupan ini.
Teruntuk generasi-generasi muda Indonesia yang cerdas, semangat, baik, berwawasan luas, sehat jasmani dan rohani, moral yang baik dan menjunjung tinggi kesopananmari kita bersatu rapatkan barisan kita, perbaiki kembali kepribadian kita, akhlak kita, moral kita, dan lihatlah ke dalam diri kita sendiri dan renungkan kembali apa yang harus kita lakukan sebagai generasi muda Indonesia agar Negara kita Negara yang bersih, sehat, maju, kuat, dan cerdas dengan anak-anak dari generasi yang akan datang. Kita semua tahu, sebagi generasi muda Indonesia masa depan Indonesia bergantung pada generasi muda selanjutnya yang akan maju menggantikan generasi senior yang memang sudah waktunya menyerahkan kepemimpinan kepada generasi-generasi muda untuk mengurus dan membenahi Negara kita Indonesia menjadi Negara yang lebih baik, adil, jujur, dan bersih dari segala macam keburukan-keburukan yang kotor.
»» Baca Selengkapnya...

Kita Membutuhkan Pak Hoegeng dan Baharuddin Lopa Yunior

            Ada “joke” menarik yang pernah dilontarkan almarhum presiden Gus Dur. Di Indonesia hanya ada tiga polisi baik, pak Hoegeng, mantan Kapolri, polisi tidur dan patung polisi. Sementara di kejaksaan orang masih mengingat nama besar mantan Kejagung almarhum Baharuddin Lopa. Setidaknya ada  kesamaan menarik antara dua orang pengawal hukum ini (pak Hoegeng dan Baharuddin Lopa); jujur, sederhana, memiliki integritas dan tegas. Indonesia amat membutuhkan profil manusia pengawal hukum sekelas mereka. In memoriam, baik Pak Hoegeng maupun Baharuddin Lopa memiliki kebiasaan, tabiat dalam hidup yang patut diteladani oleh para yunior maupun korpsnya hari ini, setidaknya untuk memberantas krisis hukum yang terjadi.
          Beberapa hari terakhir, publik tentu tidak terlalu terkejut dengan pemberintaan “ada hotel di rumah tahanan”. Pasalnya, beberapa penghuni tahanan diperlakukan diskriminatif dengan memberikan fasilitas dan kesempatan memperoleh hak lebih ketimbang penghuni lainnya. Ketika tim pemberantantasan mafia hukum bentukan presiden SBY berkunjung secara mendadak ke salah satu LP di Jakarta Timur, mereka menemukuan para napi yang berstatus sebagai koruptor dan pengedar narkoba terbukti mendapatkan fasilitas luks berupa ruangan eksklusif dengan fasilitas pendingin ruangan, peralatan karoke, spring bed mewah, ruang rapat direksi perusahaan, pembantu, peralatan pengasuhan bayi, ruang perawatan khusus kesehatan, kebebasan keluar masuk tahanan dan lain sebagainya.
        Perlu dicatat bahwa, apapun yang didapatkan dan diperoleh para napi tentu saja hak mereka sebagai warga negara. Hanya saja, praktek yan terjadi kemudian adalah perlakuan diskriminatif antar napi. Semakin tinggi pengaruh dan kekuasaan yang dimiliki napi, maka fasilitas Lapas pun semakin mudah didapatkan. Demikian sebaliknya. Pengaruh uang dan kekuasaan telah melahirkan mafia hukum dari sipir hingga pejabat berwenang di Departemen Hukum dan HAM. Tidak salah kemudian Departemen yang paling banyak mengirimkan (dijebloskan) Dirjen dan Sekjen serta DIrektur dan Kalapas ke penjara adalah Departemen ini, Departemen yang sesungguhnya harus menjadi garda terdepan dalam memulihkan kewibawaan hukum.
       Cerita tentang perlakukan diskriminatif di dalam lembaga pemasyaraktan (Lapas) tentu bukanlah cerita baru apalagi berubah menjadi cerita heboh. Ini artinya, beberapa fakta yang terjadi di Lapas sesungguhnya telah menjadi warna Lapas itu sendiri. Pertanyaannya kemudian adalah apakah filosofi pembentukan dan penamaan Lapas? Ketika Bung Karno mengeluarkan Kepres tentang Lapas, ada filosofi menarik yang ditemukan-dimana Lapas sesungguhnya adalah tempat pembinaan warga negara dalam sementara waktu untuk kemudian dapat hidup “normal” ketika kembali bergabung dengan masyarakat. Karenanya Lapas didesain sedemikian rupa. Hanya saja hari ini Lapas telah jauh dari filosofi pembentukannya. Lebih dari itu, kompleksitas permasalahan Lapas turut ikut menambah runyam persoalan Lapas. Keterbatasan anggaran serta kurangnya kepedulian pemerintah dalam menata Lapas membuat kondisi Lapas  bermasalah, tidak manusiawi dan tidak layak huni bagi manusia beradab. Persoalan kekuarang ruangan, fasilitas minimal, sesaknya penghuni, praktek mafia para sipir dan pimpinan Lapas, membuat lingkungan Lapas menjadi angker dan dan kejam.
         Kini publik sedang berharap besar khususnya terhadap Menteri Hukum dan Ham, Patrialis Akbar. Harapannya tentu saja agar Patrialis dapat menjadi seperti Pak Hoegeng dan Pak Baharuddin Lopa; tampil sederhana, penuh integritas, jujur, berwibawa dan tegas. Mengadapi para mafia tentu tidak bisa dilakukan dengan cara kerja birokratif dan prosedural. Melawan mafia pun harus menggunakan cara kerja mafia. Selain itu, perlu dilakukan terbosan manajemen misalnya, menata kembali Lapas seperti jumlah bangunan dan standar pelayanan minimal, termasuk penghuni dan manajamen ruangan dan program pembinaan. Hal lainnya, perlu kembali melirik filosofi pembuatan penjara sebagaimana yang telah dilakukan Pemerintah Hindia Belanda. Penjara Suka Miskin Bandung misalnya, dikhususkan untuk tahanan eksekutif (elit politik) dan dibatasi huniannya tidak lebih dari 500 orang (berlaku hingga sekarang). Saat ini, Depkum Ham boleh saja mengajukan misalnya pembentukan Lapas khusus bagi koruptor. Dengan demikian, tidak cukup bagi sang Menteri hanya memecat, mencopot, mindahkan para pejabat Lapas jika terbukti melakukan praktek mafioso. Tindakan holistik seperti disinggung di atas merupakan salah satu langkah kongkrit yang perlu dilakukan dalam kerangka menyelamatkan wajah hukum kita yang terlanjur bopeng.
        Sejauh ini, pemberantasan mafia hukum terus digencarkan dalam segala lini dan di semua institusi. Bahkan agenda kerja  seratus hari kabinet SBY adalah memberantas mafia hukum. Tentu saja yang paling pertama direformasi adalah insitusi hukum seperti kepolisian, kejaksaan, KPK dan kementerian hukum dan HAM. Rakyat terlanjur bosan dengan cerita mafia hukum. Praktek mafia hukum seolah kenyataan yang harus diterima dan dibiasakan. Secara perlahan namun pasti, tak sadar bangsa ini dikerangkeng oleh praktek culas. Sampe kapan kita harus bertahan? Semoga Pak Hoegeng dan Pak Baharuddi Lopa yunior dapat tampil menjadi pionir terdepan. Rakyat rindu perubahan, rakyat butuh keadilan. Republik harus diselamatkan.

Hoegeng Iman Santoso adalah Kapolri di tahun 1968-1971. Ia juga pernah menjadi Kepala Imigrasi (1960), dan juga pernah menjabat sebagai menteri di jajaran kabinet era Soekarno. Kedisiplinan dan kejujuran selalu menjadi simbol Hoegeng dalam menjalankan tugasnya di manapun.salah satu bentuk kejujuran beliau antara lain: Misalnya, ia pernah menolak hadiah rumah dan berbagai isinya saat menjalankan tugas sebagai Kepala Direktorat Reskrim Polda Sumatera Utara tahun 1956. Ketika itu, Hoegeng dan keluarganya lebih memilih tinggal di hotel dan hanya mau pindah ke rumah dinas, jika isinya hanya benar-benar barang inventaris kantor saja.
Semua barang-barang luks pemberian itu akhirnya ditaruh Hoegeng dan anak buahnya di pinggir jalan saja. ” Kami tak tahu dari siapa barang-barang itu, karena kami baru datang dan belum mengenal siapapun,” kata Merry Roeslani, istri Hoegeng.,Saking jujurnya, Hoegeng baru memiliki rumah saat memasuki masa pensiun. Atas kebaikan Kapolri penggantinya, rumah dinas di kawasan Menteng Jakarta pusat pun menjadi milik keluarga Hoegeng. Tentu saja, mereka mengisi rumah itu, setelah seluruh perabot inventaris kantor ia kembalikan semuanya.,Polisi Kelahiran Pekalongan tahun 1921 ini, sangat gigih dalam menjalankan tugas. Ia bahkan kadang menyamar dalam beberapa penyelidikan.
 Kasus-kasus besar yang pernah ia tangani antara lain, kasus pemerkosaan Sum tukang jamu gendong atau dikenal dengan kasus Sum Kuning, yang melibatkan anak pejabat. Ia juga pernah membongkar kasus penyelundupan mobil yang dilakukan Robby Tjahjadi, yang notabene dekat dengan keluarga Cendana. Kasus inilah yang kemudian santer diduga sebagai penyebab pencopotan Hoegeng oleh Soeharto. Hoegeng dipensiunkan oleh Presiden Soeharto pada usia 49 tahun, di saat ia sedang melakukan pembersihan di jajaran kepolisian. Kabar pencopotan itu diterima Hoegeng secara mendadak. Kemudian Hoegeng ditawarkan Soeharto untuk menjadi duta besar di sebuah Negara di Eropa, namun ia menolak. Alasannya karena ia seorang polisi dan bukan politisi. Memasuki masa pensiun Hoegeng menghabiskan waktu dengan menekuni hobinya sejak remaja, yakni bermain musik Hawaiian dan melukis. Lukisan itu lah yang kemudian menjadi sumber Hoegeng untuk membiayai keluarga. Karena harus anda ketahui, pensiunan Hoegeng hingga tahun 2001 hanya sebesar Rp.10.000 saja, itu pun hanya diterima sebesar Rp.7500! sampai akirnya beliau wafat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Rabu 14 Juli 2004 pukul 00.30. Bagaimana dengan polisi sekarang…..banyak isu untuk naik pangkat harus nyogok, masuk polisi hatus nyogo….k. pecahkan msalah dapat sogokan….jadi becking….orang bilang polisi itu seperti sapu sebagai tukang kebersihan yaitu menegkkan hukum positif dinegeri ini tetapi…sapunya kotor jadi lantai kotor disapu dengan sapu kotor jadi ngak bersih-sersih…..kasus gayus, kasus bibit candra, kasus anggodo……..sungguh memilukan bagi polri.
»» Baca Selengkapnya...

Kamis, 29 November 2012

What’s on Ashura?


As has been understood by Muslims, there is a 4 month that mentioned the holy month in the Qur'an as that should not be tainted it purity. It is Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram and Rajab.
Probe further the month of Muharram, there are at least two events that often make important attention by Muslims all over the Earth, that is new Hijra anniversary on the 1st of Muharram, as some time ago and the Day of Ashura is celebrated on every 10th of Muharram.
Welcome enthusiastic in this Ashura day, the writer invites readers to review briefly what’s on Ashura and its relationship with Muslims.
According Azh-Zhain bin Al-Mughirah as cited Fir'adi Nasruddin Abu Ja'far (2007), majority opinion said that the definition of Ashura is the tenth day of Muharram, and this opinion is more suitable when viewed from the root and naming.
In an illustrious history, informed that at the beginning of the Prophet Muhammad migrated to Medina saw the Jews fasting the 10th of Muharram.
Rasulullah SAW said, " is this fasting?" The friend replied, "This is the fasting Prophet Saleh AS, also fast on the day on which Allah saved the Children of Israel from their enemies so Prophet Musa fasted." Rasulullah SAW said, "I have more right over Musa than they (the Jews), so the Prophet fasted and ordered (the Muslims) to fast. "(Bukhari).
At first order this fasting is obligatory for the Muslims. Then based on the history of Aisha RA, when the fasting month of Ramadan fasting becomes obligatory, the obligation of fasting was confined to Ramadan alone, while the obligation of fasting on Ashura day eliminated.
Nevertheless, the Prophet remained fasting on Ashura day after the compulsory fasting in Ramadan. Therefore, Muslims should fast that day if he wants to, and may also not fast if he wants to.
Although there is no strong and authentic sources of Islam, already spread some of the legends and myths that invites misunderstanding among Muslims regarding the day of Ashura.
Some things are still a belief is the legend that on the day of Ashura, Prophet Adam was created, on the day of Ashura Prophet Abraham was born, on the day of Ashura Allah SWT accept the repentance of Prophet Ibrahim, on the day of Ashura apocalypse will occur and who is believed to shower on the day of Ashura is not going to be easy disease. All the legends that have absolutely no basis in Islam.
In addition, there is also a group of people (the Shi'ites) were linked to the death of Ashura grandson of Prophet Muhmmad SAW, Husain in Karbala.
As a sign'm sorry for that incident, there are a ritual gathering crying with screaming, briefly praised and briefly cursed and tore up clothes or beat their own chests.
Though Prophet Muhammad forbade his member to do ceremony because of the death in that way, because it is a legacy of action time of ignorance
Prophet said, "It is not including my people who beat his breast, tore his clothes and cried like the people in the time of ignorance."
In addition they also fasted on the day of Ashura, but only until the time of Asr only. This act is definitely an act of heresy, because it was never done and taught by the Prophet Muhammad.
And only on the Day of Ashura that Husayn ibn Ali died in a state of fasting Ashura because when his sister suggested he break his fast on that day, he replied "I will break the fast with datukku Messenger of Allah."
Hopefully this review can inspire and stimulate the spirit of the Prophet menteladani. Allaah knows best.
»» Baca Selengkapnya...

Minggu, 03 Juni 2012

“Sopan Santun” Sebuah Budaya yang Terlupakan

Mungkin memang benar, seiring perkembangan zaman, tingkah laku para remaja yang berubah dari waktu kewaktu, misalnya rasa hormat terhadap orang yang lebih tua semakin jarang ditunjukkan. Terlebih masuknya kebudayaan barat yang menyebabkan pudarnya nilai-nilai lokal bangsa ini sehingga remaja Indonesia mau tidak mau mengikuti dan mencontoh kebudayaan tersebut.

Nilai-nilai lokal sangatlah penting bagi remaja karena akan memberi dampak positif dalam membentuk kepribadian bangsa yang menjunjung tinggi nilai kesopanan. Kesopanan zaman dahulu dapat dengan mudah kita lihat pada seorang anak yang selalu sungkem (Bahasa Jawa) ketika berhadapan dengan yang lebih tua. Ironis jika melihat realitas sekarang dimana banyak pergeseran yang dilakukan oleh remaja mengenai budaya sopan santun ini.

Mengingat lingkungan pendidikan merupakan tempat dimana waktu banyak dihabiskan remaja, maka pendidikan karakter sejak dini bisa menjadi solusi jitu dalam mengembalikan moralitas yang telah lama hilang. Karena hal ini erat kaitannya dengan budi pekerti, akhlak mulia, moral dan kecerdasan ganda.

“Sopan santun, sebuah budaya yang terlupakan”, mengingatkan kembali akan nilai-nilai yang  telah lama dekat dengan kita dimasa lalu. Kemudian mencoba mengembalikannya ditengah-tengah kehidupan berbangsa kita saat ini.
»» Baca Selengkapnya...

Jumat, 04 Februari 2011

“Survival” di Tanah Rantau


Demi pendidikan, banyak mahasiswa terpaksa merantau jauh dari rumah. Sebagai pendatang, sudah tentu dibutuhkan jurus adaptasi yang tepat agar sukses bertahan di tanah rantau.
Siapkah kamu sebagai mahasiswa baru bertahan di tanah rantau? Apa saja jurus bertahan yang kamu lakukan? Setujukah bahwa mahasiswa sebagai “agen perubahan”, dimanapun berada, di tanah rantau pun, semestinya menjadi tempat  dimana bumi dipijak dan langit dijunjung?
Memang tidak mudah, mengawali kehidupan baru dilingkungan yang baru. Terutama bagi mahasiswa yang memutuskan untuk menempuh pendidikan yang jauh dari orang tua. Untuk itulah siap ngga siap harus mampu bertahan dan beradaptasi di tanah rantau.
Mahasiswa sebagai orang yang memiliki kemampuan logis dalam berfikir sehingga dapat membedakan yang benar dan salah, tentunya memiliki potensi yang sangat besar sebagai agen perubahan. Karena yang ada saat ini, perubahan adalah sebuah keniscayaan.
»» Baca Selengkapnya...