Lidah orang berakal di belakang hatinya dan hati orang bodoh di belakang lidahnya.
Ketahuilah, lidah laksana binatang buas yang suatu saat bisa "membunuh".
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Januari 2013

Salam Rindu Untukmu,,


Salam rindu untukmu,,
kalau bukan karena dinginnya samudra,
niscaya aku terbakar oleh api kerinduanku padamu.
Dan kalau bukan karena kesabaranku,
niscaya aku terbang membawa cintaku padamu.
jernihnya langit tak sejernih cintamu,
sejuknya musim semi tak sesejuk bisikan kata-katamu.
semua tampak nyata dan tak mudah dilupakan.

kekasihku,,
andai kau bersamaku,
menyaksikan alam dengan segenap pesonanya,
menatap lautan bergemuruh bak halilintar,
melihat ombak saling beradu terjang.

Jernihnya laut dan jernihnya langit,
laksana hati kita berdua.
Andaikan kau disini,
mendengarkan kicauan burung-burung dan lambaian pepohonan.

Sungguh, semua itu adalah pemandangan yang mempesona manusia.
tapi tak demikian dengan hatiku.
karena dia tahu apa yang dirahasiakan zaman dan
apa yang disembunyikan malam dan siang.

terimalah kecupan manis dariku dan segenap rasa rinduku,,,
»» Baca Selengkapnya...

Jumat, 04 Januari 2013

Nikmat Keiblisan


Bila seutuh nama telah merelief di hati
Maka mungkin tiap lakukan bayang-bayangmu
Sangat sulit teraniaya oleh pemandangan indah lain
Tapi terkadang dalam hati tetap terjadi perkelahian
Baik dan buruklah pemain setianya
Aku kuatir jika suatu saat hatiku
Yang sekarang tersepuh lapisan malu
Akan gegeraham lalu berani mengintip
Hasrat aneh itu lagi
Dan ketakutanku mengalami peningkatan
Apabila dalam susunan oktav asmaraku
Terselip setengah kecil panduan nikmat keiblisan
Walau sering berwajah kenabian
»» Baca Selengkapnya...

Segenap Keberadaanku


Segenap keberadaanku, telah menjadi dawai kecapi rohani
Yang sejak disentuh tangan kekasih
Mulailah hayal meraung-raung kesurgaloka
Ku  berjalan ditepi laut
Ku temui ikan-ikan disegara mulai jaga
Malampun mengadu padaku
Iya mulai kantuk menuju siang
Melihat rajutan cinta yang kini
Tak lagi terjahit rapi
Aku menyesal apabila harus meninggalkan taman dunia ini
Kan ku bawakan butiran-butiran jagung keluguan
Agar kau simpan di palung hatimu
Aku tak bisa bawakan gula-gula dari mesir
Yang amat mahal itu
Tapi, ku coba saksikan kata dan cinta jujur
Bukan tuk direnungi
Tetapi diperuntukkan bagi para pecinta sejati
Agar diambil dengan segala hormat
Terakhir, ini penting bagi kalian
Jika nanti malam kalian bertemu tuhan
Tolong tanyakan padanya
Apakah kita tak pisah dlaam perpisahan ini?

»» Baca Selengkapnya...

Kamis, 20 Desember 2012

Rindu Sendu


Mataku menangis bukan karena terluka,
tapi karena kerinduan yang tak bisa tertahankan.
Perjalanan yang indah hanya bisa terkenang bersama pikiran dalam jiwa,
Jemari-jemari merambah mengukir kata bermakna
dengan hiasan tinta hitam yang membekas.
Kakipun melangkah dengan irama sendu,
mencari pengobat rindu yang berlalu bersama belenggu.
Melayang selalu beban rindu
untuk menelusuri jejaknya yang pernah bermain  bersama perasaan keindahan.
Segala bentuk sayap-sayap telah tercoba
berusaha terbang menjemput mimpi yang indah dalam pikiran orang lain,
bukan mimpi indah yang tertanam dalam hati nurani.
Sembari terbang bersama sayap-sayap kecil,
mencoba menebarkan rasa rindu disetiap sudut semesta
untuk memberi pengobat rasa yang sangat sulit untuk dihentikan.
Waktu terus berlalu,
hari terus berlari bersama rindu sendu mengejar perasaan
dalam jiwa yang tertekan gulita yang tak bernyawa.
Hanya satu yang teringinkan…
selamatkan hati ini dari kerapuhan yang mulai merasuki kepenatan.
Karena jalan pikirku telah terkontaminasi
dengan segala beban yang dijalani.
Bukan hanya satu, tapi beribu-ribu cobaan.

»» Baca Selengkapnya...

Senin, 19 November 2012

Rangkaian Hati untuk Bintang

Rembulan di celah langit,
kaukah yg melukisnya di sana?
memulasnya dengan bening air matamu,
Deras cahayanya menghanyutkan bayang-bayang rindu,
aku memanah langit berharap ada bintang jatuh terbakar,
untuk menyulut unggun kayu di jantungku,
lalu nafasmu berhembus di dada,
menjaga api tetap menyala,
bukankah malam lebih hangat jika kau hampar di dadaku?
kita saling memandang, saling menembus keheningan,
kau hapus keringat di keningku,
menggantinya dengan kecupan,
kecupan berbentuk perahu,
berlayar lurus menuju hatiku,
laut di jantungku gemuruh,
ombak di mataku meleleh,
hingga hilang seluruh garus pantai,
dan malam tinggal sebuah andai,
bagaimana agar malam tak berakhir wahai sang bintang?
apakah dengan mengikat rembulan agar tak terseret ke pinggir, agar tak menyingkir?
sebab ku ingin merangkai hatiku di bintang itu,
untuk ku kalungkan di dadamu,. 
»» Baca Selengkapnya...